facebook instagram linkedin pinterest youtube
  • Home
  • About
    • About The Blog
    • About The Writer
  • Travel
  • Youtube Channel

Cave of Hira'

Pernah aku tuliskan sebelumnya disini, bahwa aku adalah penerima manfaat Beasiswa Pemimpin Bangsa oleh Sinergi Foundation. Sebuah program yang dirancang untuk mencetak pemimpin berkarakter melalui program beasiswa yang diberikan selama 8 semester perkuliahan, ditujukan kepada mereka yang memiliki kendala di sektor ekonomi. Setelah membaca tulisan yang aku tuliskan tepat setahun yang lalu itu, asli bikin aku senyam-senyum sendiri. Betapa banyak pelajaran yang dititipkan selama bertahun-tahun aku memiliki predikat penerima manfaat BPB ini. Like, perjalanan menuju ke titik ini sungguh lika-liku dan gak pernah ada di ekspektasi aku sebelumnya.

Lucu aja, baca-baca ulang tulisan yang aku tulis ketika sedang capek-capeknya, dengan emosi dan hikmah yang dicoba dikait-kaitin wkwkwk. And look at us now, we changed a lot! Dari berbagai aspek.

Jika dulu untuk bisa nyampe ke Jatinangor, setiap pagi harus naik angkot dari jam setengah 6 subuh kurang, supaya jam 6 nya bisa ngejar damri di simpang Katamso. Akhirnya, setahunan terakhir kita kedatangan gojek dan grab yang buat kita bisa lebih luang siap-siap ke pool damrinya langsung, gak perlu memperhitungkan lama dan gak pastinya si angkot ngetem. Kalau dulu, untuk naik travel kalo baliknya udah malam harus mikir 1453 kali, tapi sekarang karena paginya kita naik bis gratis, ongkos pagi bisa kita alokasikan untuk biaya travel malamnya. Gak harus motong jatah uang jajan hari esok, gak harus berjam-jam nungguin bis Bandung-Cirebon yang gak datang-datang, atau gak harus ketipu sama mang angkot di terminal Cicaheum yang katanya angkotnya gak bakal ngetem tapi malah nyaris setengah jam berhenti nungguin penumpang yang lain, padahal di waktu yang sama ruang obrolan di LINE sudah penuh sama temen kelompok yang nagihin tugas.

Kita yang jadikan kesempatan itu ada.
Awal sekali masuk asrama beasiswa, teman-temanku masih 'kaget' sama peraturan yang buat kita harus berpakaian islami, apalagi kalo mau datang ke kantor beasiswa. Temenku paling malas dipaksa pake rok, sudah nyaman dengan legging dan jeans-nya. Bukan berarti menolak, dia yang jadikan kesempatan itu ada. Liatlah temanku itu sekarang, sudah cantik di balik gamis dan roknya yang tetap modis. Heran dan gak habis pikir dengan dirinya yang dulu.
Lalu ada lagi, temanku yang lain. Paling senang memakai kerudung paris yang setipis jaringan santan di dapur. Sekarang, doi jadi bosnya produk kerudung syar'i yang udah dibeli sama siapa aja. Allahu akbar!
Satu lagi dari sekian banyak. Temenku yang dulunya paling bocah dan yang paling gak bisa dibilangin, sekarang tetap masih bocah, tapi jadi orang yang paling seneng ngingatin hal kecil yang sering terluput oleh ingatan. Diingatkan agar pakai kaos kaki walau hanya ke warung depan, diingatkan kalau ngelipat kerudungnya kependekan, diingatkan kalau belum dhuha.
Lalu perlahan-lahan, kita yang buat kesempatan berubah menjadi lebih baik itu ada. Kita yang harus cari lingkungan kondusif dan mendukung itu ada. Wait, am I crying?!


please welcome; my hero di pulau Jawa <3

Hal di atas bisa aku tuliskan di laman ini, karena hal yang sederhana.
Beberapa hari yang lalu, mamak bercerita bahwa begitu banyak temannya yang sedang ngos-ngosan nyari biaya pendidikan untuk anaknya yang juga merantau ke pulau Jawa.
Beberapa hari yang lalu pula, om Muksal bertanya soal perkualiahanku. Beliau sudah tidak sabar ingin menjadikan aku apoteker penanggung jawab di apoteknya, alamak!
Beberapa hari yang lalu pula, ketika aku pulang ke rumah minek(re: nenek) di kampung. Bertemu dengan teman bermainku dulu yang sedang kesulitan menyelesaikan skripsinya dan memilih bekerja kasar saja dibanding melanjutkan kuliah.
Beberapa hari yang lalu pula, dengan mata kepala sendiri aku melihat betapa banyak hal yang harus ditingkatkan di Aceh. Sudut pandang dan stigma yang harus diluruskan.

Benar katanya.
Jalan yang jauh, jangan lupa pulang.

Akhir-akhir ini entah mengapa sulit sekali mencari motivasi untuk kuliah dengan giat dan semangat. Namun pulang ke rumah sedikit banyaknya membuat kita sadar akan banyak hal. Soal niatan di permulaan, soal titik-titik hidup yang dicoba hubungkan, soal kebiasaan baik yang dicoba untuk dipertahankan, soal realita yang luput tertangkap oleh mata, soal syukur dan nikmat yang banyak didapatkan, soal ekspektasi dan harapan yang masih digantungkan, soal doa yang selalu menjadi teman di perjalanan.

Untuk bisa tiba di titik ini, ada banyak sekali skenario-Nya yang tidak pernah diimpikan sebelumnya.
Banyak hal yang harus aku syukuri dibandingkan mengeluh karena sedikit rintangan yang harus diperjuangkan. Bisa bertemu dengan orang-orang hebat dan menghebatkan di atas, bisa bersusah-susah menjadi mahasiswa, bisa bertemu dengan segala rupa alur kehidupan yang tidak disangka sebelumnya. Alhamdulillah.



Banda Aceh, sedang liburan.
Semoga selalu menjadi hamba yang syukur,

Alya
August 17, 2018 No comments
Halo semuanya. Selamat datang di blog gue. Buat kalian yang baru pertama kali singgah ke blog ini, welcome to my mind’s jungle wohoho. Don’t expect too much, I’ll just write down anything that ‘disturb’ my day while trying to figure out some ‘lessons’ behind them, or else randomly.

Baiklah, kali ini aku mau berbagi cerita tentang satu hal yang lumayan menforsir otak belakangan ini. Hal ini bisa dibilang gak pernah aku bayangin seumur hidup akan begini caranya. Yaps, asal mula aku bisa punya riwayat akan berkunjung ke Amerika. Kita flashback sebentar, here we go!

oOo

Dari bangku sekolah dasar, aku emang udah di-doktrin sama ayah untuk kuliah di luar negeri, saat itu tujuannya adalah Malaysia. Ayah yang punya banyak kenalan dari negeri tetangga, sering mendengar desas-desus beasiswa apa saja yang disediakan Pemerintah Malaysia serta Universitas apa saja yang bisa dijadikan tujuan. Singkat cerita, Malaysia terus terngiang di kepala hingga akhirnya aku melanjutkan studi sekolah menengah pertama di Pesantren Tgk. Chiek Oemar Diyan, pesantren modern paling diakui se-Aceh (seeh~). Maka tidak heran, banyak kakak kelasku di Pesantren yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan aliyahnya (setara dengan SMA) lalu melanjutkan studi di luar negeri. Negara yang paling popular saat itu adalah Mesir dan Turki.

Kami yang saat itu masih menjadi santri menerima kiriman foto secara berkala yang dikirim via pos oleh kakak kelas yang melanjutkan studi mereka di luar negeri. Fix, kiriman foto itu berhasil membuat aku iri dan buat aku punya cita-cita untuk belajar di Mesir dan Turki. Jadi, begitulah mulanya aku bisa tergila-gila dengan Azzam di film Ketika Cinta Bertasbih. Oke, lanjut.

Jenjang SMA terlewati. Harapan besar untuk bisa melanjutkan kuliah di luar negeri walaupun aku sudah bukan alumni pesantren masih ada. Namun, dua tahun seleksi diikhtiarkan, selama dua tahun pula tidak dibukakan jalan kesana. Baiklah, aku sudah terbiasa. Lagipula lingkungan kampusku yang sekarang cukup kondusif untuk mengembangkan diri, serta Allah memberikan paket spesial untukku selama berkuliah berupa beasiswa penuh. Life must go on dan cita-cita berkunjung ke berbagai negara masih ada—dan akan selalu ada.

Soal beasiswa yang aku dapatkan selama kuliah, kami para penerima manfaatnya diwajibkan untuk tinggal di sebuah asrama khusus. Dari asrama ini pula, catatan perjalanan ini dimulai.

Banyak wacana yang belum terealisasi dari mimpi-mimpi yang sempat kami ungkapkan bersama di asrama. Seperti nabung untuk umroh bareng, lalu membuka perpustakaan dan bimbel untuk anak-anak tetangga dan banyak lagi. Salah satunya, kami pernah mencetuskan untuk pergi ke Harvard University bersama-sama. Aku yang punya cita-cita mulia ingin berkeliling dunia, tentu senang bukan kepalang. Namun, namanya juga mahasiswa, eksistensi Harvard masih belum benar-benar buat kami ‘yok!’ dibandingkan tugas kampus, tuntutan organisasi di depan mata dan banyak lagi. Apalagi kami merencanakannya untuk bertiga belas. Terlalu luas, tidak spesifik dan gak berani dibayangkan. Yang mencetuskan ini adalah Pembina asrama kami, Teh Juan. Melihat bagaimana realita yang berjalan, maka haluan akan rencana ini dibelokkan sementara. Ide untuk membagi-bagi kami menjadi beberapa bagian yang lebih kecil pun menjadi pilihan. Akhirul kalam, aku dan tim menjadi geng kedua untuk diterbangkan.

source: google
Jika ada yang bertanya-tanya, dalam rangka apa Alya kesana?
Jadi, tajuk keberangkatan kami ini adalah mengikuti konferensi ilmiah internasional.

Awalnya, paper yang aku ajukan diterima oleh beberapa konferensi di berbagai negara. Paris-France, Istanbul-Turki (yes my love!), Jepang (Hokaido, Tokyo dan Osaka) dan San Diego-Amerika. Hingga bagaimana proses seleksi alamnya aku lupa, akhirnya pilihan ter-fix untuk kita wujudkan adalah Amerika!! Well, I realized that USA is not a game. But, let’s give a try and challenge myself!

Baiklah, aku rasa segini dulu postingan kali ini. Nantikan postingan selanjutnya beserta berbagai struggles yang harus kami taklukkan wohoho. See you!
February 01, 2018 No comments
Mungkin ini belum ada apa-apanya. Apalagi kalo dibandingin sama nektu-minek paknek-mama ayah punya cerita.
Sepertinya ini udah sangat banget mudah--ga ada apa-apa.
But still, untuk mengenang masa-masanya aku sebagai mahasiswa. I'll try to write something about my life as a college student.

Aku adalah seorang penerima manfaat beasiswa suatu lembaga yang didapatkan setelah melewati berbagai tahapan tes. Mulai dari seleksi berkas, wawancara, fgd dan diskusi. Hingga akhirnya pengumuman diterima sebagai penerima manfaat beasiswa ini pun menjadi suatu kabar baik tak terkira.

Tahun pertama kuliah aku lewati dengan tinggal di asrama padjadjaran 3 (AP3), asrama kampus yang diwajibkan untuk para mahasiswa fakultas farmasi unpad tahun pertama.
Poin pentingnya adalah ketika naik tingkat 2 yang berarti aku harus udah caw dari AP3. Dan satu satunya pilihan adalah melanjutkan hidup untuk tinggal di asrama beasiswa. Asramanya layak tinggal. Bahkan sangat layak, harusnya. Bentuknya yang memang rumah banget memberi kesan betah.

photo: pinterest.com


Namun yang jadi masalah, eh bukan masalah, tantangan, adalaaah....

Jaraknya yang jauh dari kampus. Waktu tempuh minimal 1.5 jam perjalanan, jika tidak macet dan si kendaraan umum tepat waktu. Atau 1 jam jika beruntung. Sehingga mengharuskan kami sudah berangkat meninggalkan asrama 2 jam sebelum waktu yang ditentukan.


Mungkin untuk beberapa orang 'luar' yang ngeliat kehidupan aku selama di kampus akan berpikir, bahwa aku memiliki hidup yang paling mulus sedunia *lebai*. Biaya kuliah terjamin, setiap bulannya mendapatkan pemasukan dari non ortu, dapat pembinaan rutin dan ketemu sama banyak tokoh ketje.
But still, dont judge a book by its cover :)
Padahal da cover nya juga ga mulus-mulus banget hehe...

Aku sudah diharuskan terjaga pukul 04.00 AM untuk bersiap-siap lebih awal, jika tidak ingin antrian mandi memanjang, dan berimbas ke ketinggalan bus umum nantinya. Padahal terkadang baru kembali tiba di asrama pukul 10-11 malam, belum dengan konten tepar dan tugas kuliah yang menggunung.

Normal sih, jam 4 doang, tapi kerasa banget bedanya ketika sekali-kali aku mencoba menginap di kontrakan temen yang domisili di Jatinangor dan melihat mereka baru terjaga pukul 06.00 wib lalu terburu-buru shalat subuh jam segono, which is di asrama, aku diwajibkan untuk shalat subuh di mesjid tepat setelah adzan. Kalau dipikir-pikir, aku harusnya tidak berhenti bersyukur karena poin ini.

Barang bawaan kuliah yang gak cukup jika hanya menggunakan tas gaya-gayaan yang cewe banget, karena telah merangkum barang bawaan seharian. Teliti itu wajib, jika ada yang terlupa untuk dibawa, maka risiko tanggung sendiri :")
Atau ketika jadwal kelas dan praktikum kurang bersahabat. Kelas pertama dimulai pagi-pagi pukul 8 hingga pukul 10. Sedangkan kelas kedua baru dimulai pukul 3 siang nanti. Alamak. Numpang menghabiskan waktu dimana coba!
Terus-terusan di kosan temen juga gak enak, tapi ngelantung tanpa tujuan juga gak produktip diantara waktu-waktu yang sempit. Karenanya, kita suka mengklaim Masjid Raya Unpad sebagai kost-kostan pribadi. Seenak hati memang.

Belum lagi jika praktikum jam 7. Aku diwajibkan tiba di lokasi lebih awal. Memaksa kita untuk mengeluarkan kocek lebih, demi ketidakterlambatan. Eh, tibanya di ruang lab, selanjutnya adalah dimarahi dari berbagai penjuru karena berbagai hal. What a fate :")

Berbicara soal ketidak-pastian. Adalah ketika kegiatan keorganisasian mewajibkan rapat hingga nyaris tengah malam. Iya, memang hal itu dikaitkan dengan prioritas. Tapi terkadang dilemma yang melanda kurang manusiawi. Antara balik lebih awal namun tidak akan sama output kontribusi dengan teman yang lain, atau bertahan hingga penutupan sambil berdoa para penyedia jasa travel ke Bandung masih terbuka. Atau pernah keduanya, jam 11 malam seorang cewek masih terluntang-lantung tidak tau harus numpang tidur dimana. That's life!

But still, it such an incredible experiences. Dimana gak semua mahasiswa bisa merasakan 'bersusah-susahnya' hidup menjadi mahasiswa yang sebenar-benarnya berdikari.

Dear, Alya.
Believe, it's worth it in the end :)
September 18, 2017 No comments
Older Posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (2)
    • ▼  August (1)
      • Allah sayang
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  October (2)
    • ►  August (3)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2017 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)

Labels

China Reflections Student Life travel USA

Popular Posts

  • Catatan Selama di Amerika #2 - Mendarat
  • Catatan Selama di Amerika #1 - Review BCIA
  • Refleksi
  • Just Rain
by Alya Mahira Kudri. Powered by Blogger.

Hey!

Hey there!
Thank you for visiting. Hopefully, you'll take something good from this page. If you think something here would help someone out there, please do share it forward. Subscribe to be the first to know whenever I've updated my blog :)

Follow Me

Created with by ThemeXpose